Sungguh, seorang Muslim tentu menyadari bahwa al-Qur’an merupakan firman yang diturunkan oleh Allah. Seorang Muslim juga menyadari bahwa mengagungkan al-Qur’an merupakan bentuk pengagungan terhadap Dzat Yang Berfirman (yakni Allah Ta’ala)
Oleh : Syekh. Prof. Dr. Nashir ibn Sulaiman al-‘Umar
Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta seluruh keluarga dan para sahabatnya, Amma ba’du..
Sungguh, seorang Muslim tentu menyadari bahwa al-Qur’an merupakan firman yang diturunkan oleh Allah. Seorang Muslim juga menyadari bahwa mengagungkan al-Qur’an merupakan bentuk pengagungan terhadap Dzat Yang Berfirman (yakni Allah Ta’ala). Di samping Seorang Muslim juga menyadari bahwa ia memiliki kewajiban terhadap al-Qur’an saat membaca dan berinteraksi dengannya. Diantara kewajiban tersebut antara lain:
Pertama; Mewujudkan keikhlasan dan menghadirkan niat ketika berinteraksi dengan al-Qur’an
Saat membaca, menghafal, mendengarkan atau mengamalkan al-Qur’an, seorang Muslim Wajib menghadirkan niat yang tulus dan ikhlas semata-mata karena Allah. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5).
Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Umar bin al-Khaththab radliyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
إِنَّمـَاَ الأَعْمَــالُ بِالنِّــيَاتِ، وَإِنَّمَاَ لِكُلِّ امْرِيءٍ مَاَ نَوَى
“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan memperoleh balasan sesuai niatnya.”
Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas radliyallaahu ‘anhuma, bahwa beliau bersabda, “ Seseorang sanggup menghafal sesuai dengan kadar niatnya”. Maksudnya, seseorang mendapatkan pahala dari yang dihafal, tergantung dari niatnya yang baik. Inilah yang akan memberikan manfaat baginya.
Para ulama menjelaskan bahwa orang yang membaca dan belajar Al Qur’an, tidak boleh menjadikan ibadah tersebut sebagai jalan untuk menggapai tujuan-tujuan duniawi. Baik wujudnya berupa harta, jabatan, pangkat, kedudukan terhormat di tengah-tengah kerabatnya, pujian orang-orang, menarik perhatian orang lain, dan sejenisnya.
Para salaf rahimahumullah sangat antusias untuk menjaga kesucian niat mereka ketika melakukan ketaatan, terlebih lagi saat berinteraksi dengan al-Qur’an. Mereka berusaha dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengotori niat mereka dengan noda apapun, baik berupa sum’ah (ingin amalnya didengar orang lain, pent) ataupun riya.
Salah satu contohnya adalah kisah tentang Imam Ayyub as-Sikhtiyani rahimahullah, jika beliau berbicara atau membaca al-Qur’an dan hatinya tersentuh hingga meneteskan air mata, maka beliau khawatir terjatuh ke dalam riya, beliau mengusap wajahnya lalu berkata: “betapa berat demam ini”. Ibrahim An-Nakha’i jika membaca mushaf, lalu ada orang yang masuk menemuinya, beliau menyembunyikan mushafnya.
Mereka tidak mengenal perilaku yang dibuat-buat bahkan tidak terlintas dalam benak mereka. Perbuatan baik sudah menjadi karakter mereka. Beginilah, tabiat orang-orang yang ikhlas.
Faktor utama yang membantu mereka mewujudkan makna ikhlas dalam interaksi mereka dengan Al Qur’an adalah keyakinan mereka bahwa ketika mereka membaca Al Qur’an, pada hakikatnya sedang berkomunikasi dan bermunajat dengan Rabb (Tuhan)nya.