Mengagungkan firman Allah merupakaan ciri orang-orang saleh, baik pada umat ini maupun umat-umat terdahulu. Pengaruhnya tercerminkan dalam diri mereka. Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا ۚ إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِن قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا [١٧:١٠٧]
“Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud.” (QS. Al Israa’: 107).
Hal ini hanya terjadi pada orang yang Allah karuniai hati yang terbuka terhadap berbagai makna yang Allah firmankan. sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ [٢٢:٣٢]
“Demikianlah (perintah Allah). Dan siapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj: 32)
Ini merupakan nikmat agung yang tidak diperoleh kecuali oleh orang yang dipilih oleh Allah untuk mendapatkan hidayah-Nya. Sebagaimanaa firman Allah:
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ مِن ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا [١٩:٥٨]
“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam: 58).
Sikap mengagungkan Al-Qur’an menuntut seseorang untuk memiliki adab terhadap al-Qur’an, antara lain:
Pertama; Mengagungkan al-Qur’an
Bermakna mengagungkan perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya dengan menjaganya dari distorsi orang-orang berlebihan, pengrusakan orang-orang yang menyebarkan kebatilan dan ta’wil orang-orang yang jahil.
Kedua, Menjaga adab saat membaca al-Qur’an.
Hendaknya seseorang membaca al-Qur’an dalam keadaan suci secara lahir dan batin. Membersihkan mulut, badan, dan pakaiannya. Hendaknya tempat membaca al-Qur’an benar-benar bersih dan suci. Sangat dianjurkan membaca dengan menghadap qiblat dengan khusyu’ dan tenang.
Ketiga, Mengagungkan para pengemban al-Qur’an.
Diriwayatkan bahwa Umar ibn al-Khaththab berkata kepada Nafi’ ibn Abdul harits saat menemuinya di Usfan. Saat itu Umar menunjuknya sebagai gubernur Mekkah. Umar bertanya kepadanya; “Siapa yang kamu angkat menjadi pemimpin untuk penduduk Wadi?” Dia menjawab; “Aku angkat untuk mereka Ibnu Abza.” Umar bertanya; “Siapa Ibnu Abza?” Dia menjawab; “Dia adalah salah seorang dari hamba sahaya kami.” Umar berkata; “Kamu angkat untuk mereka seorang budak?” Dia menjawab; “Sesungguhnya dia seorang yang hafal Al Qur’an dan pandai dalam masalah fara`idl (warisan).” Maka Umar berkata; “sesungguhnya Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: ”Sesungguhnya Allah memuliakan suatu kaum dengan kitab [al-Qur’an] ini dan menghinakan kaum yang lain in dengan al-Qur’an ini pula. (HR. Muslim, 1/559. No. 817).